Komitmen tersebut mengemuka dalam talk show bertajuk “Bersama Mewujudkan Jakarta Bersih, Sehat, dan Berkelanjutan” dengan tema “Jakarta Tanpa Plastik Sekali Pakai: Waste to Energy, Inovasi, dan Solusi Tata Kelola Sampah” yang diselenggarakan Presidium Pemuda Indonesia (PPI) di Gedung KNPI DKI Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (30/7/2026).
Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto (SGY-Emik), Plt. Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH Laksmi Widjajayanti, serta Analis Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Erma Putri. Sementara itu, Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan berhalangan hadir karena memiliki agenda lain yang tidak dapat ditinggalkan.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan menegaskan bahwa Perumda Pasar Jaya berkomitmen menjadi salah satu motor penggerak Gerakan Jakarta Tanpa Plastik Sekali Pakai melalui berbagai program nyata di seluruh pasar yang dikelolanya.
Menurut Agus, Perumda Pasar Jaya akan terus mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai serta mendorong penggunaan tas belanja ramah lingkungan yang dapat dipakai berulang kali. Selain itu, edukasi dan sosialisasi kepada para pedagang maupun masyarakat akan terus diperkuat guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengurangi sampah plastik.
Pasar Jaya juga akan memperkuat pemilahan sampah sejak dari sumber dengan menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Di sisi lain, perusahaan daerah tersebut terus mengembangkan berbagai inovasi dalam pengelolaan sampah melalui penerapan ekonomi sirkular. Selain itu, Pasar Jaya juga akan terus mendukung program pemerintah dalam penerapan teknologi Waste to Energy (WtE) dengan melibatkan dunia usaha dan masyarakat sebagai bagian dari upaya mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Pasar tradisional memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi pusat aktivitas ekonomi dan berinteraksi langsung dengan jutaan masyarakat setiap hari. Oleh karena itu, perubahan perilaku di lingkungan pasar akan memberikan dampak besar terhadap pengurangan sampah plastik sekaligus mendukung terwujudnya Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ujar Agus.
Peran Perumda Pasar Jaya dinilai sangat strategis karena mengelola sekitar 153 pasar rakyat yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Jaringan pasar tersebut menjadi sarana yang efektif untuk mengedukasi pedagang dan konsumen agar membiasakan penggunaan tas belanja ramah lingkungan, mengurangi plastik sekali pakai, serta melakukan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Sementara itu, Plt. Deputi PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH Laksmi Widjajayanti mengatakan Jakarta saat ini menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah per hari, sehingga diperlukan strategi pengelolaan sampah yang terpadu dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, penerapan teknologi Waste to Energy (WtE) merupakan salah satu solusi penting karena mampu mengolah residu sampah menjadi energi listrik. Namun demikian, WtE bukanlah satu-satunya solusi dalam pengelolaan sampah.
“Ada kebijakan pengolahan sampah menjadi energi listrik melalui Waste to Energy. Namun teknologi ini hanya menyelesaikan sebagian persoalan. Diperkirakan sekitar 24 persen permasalahan sampah dapat ditangani melalui pendekatan tersebut,” kata Laksmi.
Karena itu, lanjutnya, pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, penggunaan kembali, dan daur ulang tetap menjadi fondasi utama dalam sistem pengelolaan sampah nasional.
Senada dengan itu, Analis Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Erma Putri mengatakan sampah plastik harus mendapat perhatian serius karena selain mencemari lingkungan, juga berpotensi mengancam kesehatan manusia melalui pencemaran mikroplastik.
“Ketika kita berbicara tentang plastik, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang polusi yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Erma menjelaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta terus mendorong masyarakat, perkantoran, kawasan permukiman, serta pelaku usaha untuk memilah sampah ke dalam empat kategori, yaitu sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu.
Di tempat yang sama, Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto (SGY-Emik) menilai pasar tradisional merupakan salah satu titik paling strategis dalam mengurangi timbulan sampah plastik. Karena itu, Perumda Pasar Jaya memiliki peran yang sangat besar dalam membangun budaya baru pengelolaan sampah di lingkungan pasar.
“Pasar Jaya memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong perubahan perilaku pedagang dan konsumen melalui penerapan kebijakan pengurangan plastik sekali pakai serta pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Sugiyanto, teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) dan Waste to Energy (WtE) merupakan bagian dari penerapan ekonomi sirkular yang mengubah sampah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan fasilitas WtE maupun RDF sangat bergantung pada tata kelola pemerintahan yang baik. Pemerintah harus memastikan adanya kepastian regulasi, pembiayaan yang berkelanjutan, penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dan telah teruji, pengendalian emisi yang ketat, serta kemitraan yang transparan dan akuntabel dengan dunia usaha.
Sugiyanto menambahkan, pengurangan plastik sekali pakai, pemilahan sampah, daur ulang, pengolahan sampah organik, RDF, dan Waste to Energy tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus menjadi satu kesatuan dalam strategi besar pengelolaan sampah Jakarta.
“Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat, yang didukung teknologi pengelolaan sampah modern serta perubahan perilaku masyarakat, Jakarta memiliki peluang besar menjadi kota yang lebih bersih, sehat, tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan,” tandasnya. (Zat)
Komentar0